Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
Lingkungan

GAMNR Kritik Penanaman Pohon Pule di Depan Masjid Sultan Riau: Dinilai Ganggu Estetika dan Nilai Heritage

Avatar photo
84
×

GAMNR Kritik Penanaman Pohon Pule di Depan Masjid Sultan Riau: Dinilai Ganggu Estetika dan Nilai Heritage

Sebarkan artikel ini
GAMNR Soroti Penanaman Pohon Punai/Pule di Kawasan Masjid Sultan Riau Penyengat Minta Pertimbangan Estetika, Tata Ruang, dan Nilai Historis Diutamakan
Picsart-24-03-26-04-51-32-353

TINTAJURNALISNEWS –Gerakan Anak Melayu Negeri Riau (GAMNR) Tanjungpinang menyoroti pemasangan pohon jenis punai atau pule di tiga titik pelantaran Balai Kelurahan Penyengat, tepat di depan Masjid Sultan Riau Penyengat.

Kawasan ini merupakan zona heritage yang menjadi simbol peradaban Melayu serta identitas budaya masyarakat Kepulauan Riau.

Menurut informasi yang diterima GAMNR, batang pohon punai/pule tersebut telah berdiri sejak malam sebelumnya meski kondisinya masih belum rimbun.

Penanaman pohon berukuran besar pada area publik bersejarah ini dinilai perlu dipertanyakan dari aspek estetika, fungsi ruang publik, maupun kelestarian kawasan cagar budaya.

Ketua GAMNR Tanjungpinang, Sasjoni, menjelaskan bahwa pohon punai/pule memang memiliki manfaat tradisional, termasuk untuk pengobatan penyakit kulit. Namun, pohon ini juga dilekatkan dengan sejumlah mitos dalam beberapa budaya.

Karena itu, GAMNR berharap pemerintah memberikan penjelasan terbuka mengenai dasar pemilihan pohon tersebut.

“Pemilihan vegetasi di kawasan heritage harus berdasarkan pertimbangan yang jelas: kajian lingkungan, estetika, tata ruang, dan kesesuaian karakter kawasan. Bukan karena pertimbangan yang tidak relevan dengan fungsi ruang publik modern,” ujar Sasjoni.

GAMNR Tanjungpinang Soroti Penanaman Pohon Punai/Pule di Kawasan Masjid Sultan Riau Penyengat Minta Pertimbangan Estetika, Tata Ruang, dan Nilai Historis Diutamakan

Sebagai pusat spiritual dan landmark visual Pulau Penyengat, Masjid Sultan Riau memiliki nilai historis tinggi. GAMNR menilai penempatan pohon besar di pelantar depan masjid berpotensi:

  • Menutupi akses pandang ke masjid,
  • Mengganggu komposisi ruang publik,
  • Mengurangi keanggunan estetika kawasan cagar budaya,
  • Menghambat orientasi dan sirkulasi pengunjung.

Kondisi batang pohon yang sudah berdiri saat ini disebut mulai menghalangi pandangan ke arah masjid. Jika kelak pohon tumbuh rimbun, kekhawatiran dampaknya akan semakin besar.

GAMNR menegaskan bahwa pohon besar tetap memiliki fungsi ekologis yang penting. Namun, penempatannya harus sesuai dengan zonasi yang tepat seperti area hijau, taman teduh, atau ruang terbuka yang tidak mengganggu struktur visual kawasan heritage.

Penataan vegetasi di Pulau Penyengat seharusnya mempertimbangkan:

  • Nilai sejarah kawasan,
  • Kesesuaian desain tata ruang,
  • Aksesibilitas dan kenyamanan publik,
  • Keindahan visual yang mendukung karakter Melayu-Islam Penyengat.
GAMNR Tanjungpinang Soroti Penanaman Pohon Punai/Pule di Kawasan Masjid Sultan Riau Penyengat Minta Pertimbangan Estetika, Tata Ruang, dan Nilai Historis Diutamakan

GAMNR meminta Pemerintah Provinsi Kepri bersama pihak terkait untuk segera melakukan langkah korektif. Terdapat tiga poin penting yang disampaikan:

1. Melakukan evaluasi segera terhadap pemasangan pohon punai/pule di area heritage.

2. Meninjau ulang kesesuaian lokasi dengan melibatkan ahli tata ruang, arsitektur lanskap, dan pelestarian cagar budaya.

3. Memberikan penjelasan resmi kepada publik agar tidak menimbulkan persepsi keliru atau polemik sosial.

“GAMNR mendukung upaya pemerintah mempercantik kawasan Pulau Penyengat. Tetapi setiap intervensi ruang harus berbasis kajian matang, selaras dengan nilai sejarah, dan melibatkan partisipasi masyarakat setempat,” tegas Sasjoni.

Ia menambahkan, pelestarian Penyengat bukan hanya soal memperindah tampilan, tetapi menjaga marwah, identitas, dan warisan peradaban Melayu.

Example 120x600