Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Hubungi Kami via WhatsApp
Tanjungpinang

Heritage Fest Penyengat Dinilai Seremonial, Sasjonie: Warisan Budaya Melayu Bukan Hiburan Murahan

Avatar photo
247
×

Heritage Fest Penyengat Dinilai Seremonial, Sasjonie: Warisan Budaya Melayu Bukan Hiburan Murahan

Sebarkan artikel ini
,"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false,"used_sources":{"version":1,"sources":[{"id":"349538621087201","type":"ugc"}]}}
Ketua GAMNR, Said Ahmad Syukri atau akrab disapa Sasjonie

TINTAJURNALISNEWS –Sorotan tajam datang dari Ketua GAMNR, Said Ahmad Syukri atau akrab disapa Sasjonie, terkait gelaran Penyengat Heritage Fest yang dijadwalkan berlangsung pada 14–16 September 2025.

Festival yang digagas Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata ini menampilkan rangkaian kegiatan seperti lomba gasing, lomba nyuluh, dan Penyengat Night Run 3,5 Km.

Namun, bagi Sasjonie, agenda tersebut lebih menonjolkan sisi seremonial ketimbang mengangkat nilai budaya yang sesungguhnya.

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

👉 Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

“Pak Gubernur lagi fokus acara ini di Penyengat. Beliau hadir dalam pembentukan panitia bersama Kadis Pariwisata Kepri. Even kelas kelurahan saja diurus mereka? Miris juga Gubernur Kepri terikut lelet, padahal hal besar sangat menanti beliau yang menyangkut hidup orang banyak,” tegas Sasjonie.

BACA JUGA:  Audit Kinerja Itwasum Polri Tahap II Tahun 2024, Dalam Rangka Aspek Pelaksanaan dan Pengendalian

Lebih jauh, ia menduga festival itu justru menyerupai “hadiah” bagi tim sukses yang pernah mendukung suara Ansar Ahmad dalam kontestasi politik, alih-alih sebuah program strategis untuk menjaga marwah budaya.

Menurutnya, konten acara yang ditampilkan pun tak sejalan dengan semangat heritage.

“Penyengat Heritage Fest berpotensi jadi aib budaya. Judulnya ‘heritage’, tapi isinya cuma lomba gasing, nyuluh, dan night run. Padahal warisan sejati Penyengat adalah Gurindam 12, manuskrip Melayu, tradisi lisan, dan tata ruang sakral,” ungkapnya.

Sasjonie menekankan bahwa Pulau Penyengat bukan sekadar panggung hiburan.

“Tanpa mengangkat substansi budaya, acara ini hanya akan menjadi proyek seremonial semata. Pulau Penyengat adalah jantung peradaban Melayu yang harus dihormati, bukan dipermalukan,” pungkasnya.