Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
Bp BatamPEMERINTAHAN

Warga Tanjung Sengkuang Meledak! Temui Deputi BP Batam, Hamim Masri Tegas: Kami Butuh Air, Bukan Janji

Avatar photo
90
×

Warga Tanjung Sengkuang Meledak! Temui Deputi BP Batam, Hamim Masri Tegas: Kami Butuh Air, Bukan Janji

Sebarkan artikel ini
perwakilan warga, Hamim Masri
Picsart-24-03-26-04-51-32-353

TINTAJURNALISNEWS -Kekecewaan warga Tanjung Sengkuang akhirnya memuncak. Dalam aksi penyampaian aspirasi yang berlangsung panas, perwakilan warga, Hamim Masri, dengan lantang menyuarakan kegelisahan masyarakat soal krisis air bersih yang tak kunjung tuntas.

Berdiri di atas mobil komando, Hamim secara tegas meminta Deputi BP Batam Ariastuty Sirait agar tidak langsung meninggalkan lokasi dan benar-benar mendengarkan jeritan warga. “Saya jawab, ibu… ibu jangan pergi dulu. Dengarkan kami, Ibu!” tegas Hamim di hadapan massa.

Hamim menyebut, narasi yang disampaikan pihak BP Batam berulang kali hanya janji, tanpa jawaban konkret atas persoalan air yang sudah lama menghantui warga Tanjung Sengkuang. “Berulang kali ibu mengatakan seperti itu. Itu bukan solusi. Di warga kami malah hampir ribut gara-gara air yang tidak transparan. Kami request tiap hari, tapi yang datang cuma berapa,” ungkapnya.

Menurut Hamim, persoalan air bukan lagi sekadar teknis, melainkan kebutuhan vital yang berpotensi menimbulkan dampak sosial lebih luas jika terus diabaikan. “Apa perlu nanti sampai ada mati bunuh-bunuhan gara-gara air? Air ini sangat krusial,” katanya dengan nada geram.

Ia bahkan menantang para pejabat untuk merasakan langsung kondisi yang dialami warga. “Kalau nggak, Pak Amsakar, Bu Li Claudia, ayo tidur di tempat kami biar bisa merasakan terangnya,” ujarnya disambut sorakan warga.

Hamim juga menegaskan bahwa warga tidak peduli urusan lelang atau perencanaan internal, sebab yang dibutuhkan hanyalah air mengalir, mengingat masyarakat membayar tagihan setiap bulan. “Masalah ibu mau kawal lelang atau apa, itu bukan urusan kami. Kami butuh air mengalir. Planning silakan, tapi kami butuh air, bukan janji!” tegasnya lagi.

Ia bahkan menyebut masjid di lingkungan mereka berkali-kali harus membeli air, sementara permintaan warga seolah hanya dijadikan formalitas laporan. “Jangan cuma datang audiens, difoto, lalu lapor ke pusat seolah sudah selesai,” sindirnya.

Menjelang bulan suci Ramadan, kekhawatiran warga semakin besar. Hamim menilai solusi sementara seperti tandon atau air tangki tidak menyelesaikan masalah, bahkan berpotensi menambah konflik baru. “Tandon tidak menyelesaikan masalah. Air tangki tidak menyelesaikan masalah. Malah jadi rebutan,” katanya.

Hal yang paling membuat warga heran, menurut Hamim, adalah air bisa mengalir di malam hari namun mati di siang hari, padahal pengelolaan SPAM kini ditangani BP Batam bersama mitranya. “Dulu ATB, semua jalan. Pernah mati, tapi bisa diselesaikan. Sekarang kami sudah terlalu lama menunggu,” pungkasnya.

Aksi tersebut menjadi sinyal keras bahwa kesabaran warga telah di ujung batas. Mereka menuntut solusi nyata, bukan sekadar janji dan kunjungan seremonial.

Example 120x600
PEMERINTAHAN

Isu klaim lahan oleh seseorang yang disebut-sebut berasal dari institusi pusat dan berbekal surat tanah yang tidak terdaftar, belakangan ramai diperbincangkan di sejumlah grup WhatsApp di wilayah Kepulauan Riau.

Dalam pesan yang beredar, pihak tersebut dikabarkan mendesak pemerintah setempat untuk mengakomodasi klaim atas sebidang lahan yang diklaim sebagai miliknya.