Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Hubungi Kami via WhatsApp
EKONOMIPERISTIWA

Pertamina Audit SPBUN Kuala Tambangan Usai Keluhan Nelayan Terkait Solar Subsidi

Avatar photo
114
×

Pertamina Audit SPBUN Kuala Tambangan Usai Keluhan Nelayan Terkait Solar Subsidi

Sebarkan artikel ini
Tim Pertamina Kalsel melakukan audit SPBUN Kuala Tambangan terkait keluhan nelayan mengenai distribusi BBM solar subsidi.

TINTAJURNALISNEWS –Menindaklanjuti keluhan nelayan serta aksi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang terkait dugaan pemangkasan distribusi BBM subsidi jenis solar untuk nelayan, tim Pertamina Kalimantan Selatan melakukan audit di SPBUN Nomor 68.708.003 Desa Kuala Tambangan, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Bumbu, Selasa (3/6/2026).

Informasi yang diterima TJN menyebutkan, audit tersebut dihadiri perwakilan Pertamina Kalimantan Selatan, unsur kepolisian, Babinsa, Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang, perwakilan nelayan, pengelola SPBUN, serta masyarakat yang ingin menyaksikan proses pemeriksaan.

Sebelum audit dilakukan, pihak Pertamina mendengarkan langsung sejumlah keluhan nelayan terkait dugaan ketidaksesuaian antara data pada barcode dan logbook dengan jumlah BBM yang diterima di lapangan.

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

👉 Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

Salah seorang nelayan mengaku dalam catatan logbook tercantum menerima solar subsidi sebanyak 317 liter pada 4 Mei 2026 dan 317 liter pada 22 Mei 2026 atau total 634 liter dalam satu bulan. Namun, menurut pengakuannya, jumlah BBM yang benar-benar diterima hanya sekitar 180 liter.

BACA JUGA:  DPRD Tanah Laut Turun Langsung ke Kuala Tambangan, Dugaan Penyimpangan BBM Subsidi Nelayan Mulai Diusut

Kondisi tersebut, menurut nelayan, berdampak pada aktivitas melaut sehingga sebagian terpaksa membeli BBM dengan harga lebih tinggi di luar jalur subsidi.

Menindaklanjuti informasi tersebut, tim Pertamina kemudian melakukan pemeriksaan dengan melibatkan perwakilan mahasiswa, nelayan, aparat kepolisian, dan Babinsa sebagai pendamping proses audit.

Dalam proses pemeriksaan, tim Pertamina juga menanyakan sistem pengukuran BBM yang digunakan di SPBUN. Berdasarkan keterangan pekerja, pengukuran selama ini dilakukan secara manual menggunakan tongkat ukur atau besi, meskipun pada umumnya pengukuran volume BBM dapat dilakukan melalui sistem Automatic Tank Gauge (ATG).

Selain itu, tim audit turut menelusuri pengelolaan barcode dan logbook nelayan. Dari hasil klarifikasi yang dilakukan, muncul perbedaan keterangan terkait pihak yang memegang dokumen tersebut setelah proses pengambilan BBM.

BACA JUGA:  Maxim Mulai Beroperasi di Bunguran Timur, Hadirkan Transportasi Online Hemat bagi Masyarakat Kepulauan Riau

Usai pemeriksaan, pihak Pertamina memberikan edukasi kepada para nelayan bahwa barcode dan logbook merupakan dokumen yang wajib berada dalam penguasaan nelayan sebagai penerima manfaat. Pengisian logbook juga harus sesuai dengan jumlah BBM yang diterima dan diketahui langsung oleh penerima.

Pertamina menyatakan akan melakukan peninjauan lebih lanjut terhadap seluruh data yang diperoleh selama audit. Apabila ditemukan adanya kelalaian maupun indikasi manipulasi data, persoalan tersebut akan ditindaklanjuti sesuai ketentuan dan diserahkan kepada pihak berwenang.

Sementara itu, Aliansi Mahasiswa Tuntung Pandang meminta Pertamina bersikap transparan dan segera menuntaskan persoalan yang selama ini dikeluhkan nelayan. Mereka berharap hasil audit dapat memberikan kejelasan serta kepastian hukum bagi seluruh pihak.

BACA JUGA:  Gubernur Sumut Bobby Nasution Gerak Cepat Tangani Banjir–Longsor Sibolga–Tapteng, Bantuan Logistik Langsung Dikirim

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat nelayan Desa Kuala Tambangan masih menunggu hasil resmi audit yang dilakukan oleh Pertamina Kalimantan Selatan.

PERISTIWA

Dugaan praktik pelangsiran Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Bio Solar di SPBU Nomor 64.721.14 Simpang Tiga Pelabuhan Ferry Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, kembali menjadi sorotan masyarakat. Kondisi antrean kendaraan yang panjang hampir setiap hari memunculkan keluhan warga yang mengaku semakin sulit memperoleh solar subsidi.