Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
NASIONAL

Indahnya Kebersamaan dalam Reuni Akbar 40 Tahun IKAT ’88

Avatar photo
17
×

Indahnya Kebersamaan dalam Reuni Akbar 40 Tahun IKAT ’88

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":2},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}
Picsart-24-03-26-04-51-32-353

Ikatan Keluarga Alumni Tidar (IKAT) ’88

TintaJurnalisNews – Ikatan Keluarga Alumni Tidar (IKAT) ’88 sukses menggelar reuni akbar bertema “40 Tahun Pengabdian IKAT ’88, Satu Hati, Satu Jiwa, Satu Rasa” pada 3-5 Desember 2024. Acara yang berlangsung di Magelang dan Ambarawa, Jawa Tengah, ini menghadirkan 400 alumni yang menyatu dalam semangat kebersamaan dan nostalgia.

Mengawali Kenangan di Akmil Magelang

Kegiatan dimulai dengan registrasi peserta di Hotel Artos, Magelang, pada Selasa (3/12/2024). Keesokan harinya, Rabu (4/12/2024), para alumni mengunjungi Akademi Militer (Akmil) Magelang, lokasi penuh kenangan saat mereka mengawali perjalanan sebagai taruna. Berbagai tempat bersejarah di Akmil, seperti GOR Soeroto, Lapangan Sapta Marga, Graha Utama, hingga Ruang Makan Soemargo, menjadi saksi perjalanan panjang pengabdian mereka.

Malam harinya, acara silaturahmi bersama Gubernur Akmil dan jajaran digelar di Gedung Moch Lily Rochly, Akmil Magelang. Dalam suasana hangat, peserta memberikan penghormatan dan tali asih kepada mantan pelatih serta warakawuri. Kegiatan ini berlangsung hingga pukul 22.00 WIB, penuh keceriaan dan keakraban.

Pesiar ke Puncak Gunung Telomoyo

Pada hari terakhir, Kamis (5/12/2024), alumni melanjutkan rangkaian reuni dengan pesiar terpimpin ke Gunung Telomoyo, Ambarawa. Gunung setinggi 1.996 meter di atas permukaan laut ini menawarkan panorama menakjubkan lima gunung lainnya: Ungaran, Andong, Sumbing, Sindoro, dan Prau. Kesempatan langka untuk mengabadikan momen ini dimanfaatkan maksimal oleh para peserta.

Setelah menikmati pesiar, kegiatan ditutup dengan santap siang bersama di Resto Eling Beling, Ambarawa. Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa selama acara.

Apresiasi dan Refleksi

Ketua Panitia Reuni, Brigjen TNI (Purn) A. Rahman Made, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya momen bersejarah ini. “Terima kasih atas dukungan Ketua Umum IKAT ’88, Letjen TNI (Purn) Chandra W. Sukoco, para donatur, panitia, dan seluruh alumni yang hadir. Semoga kebersamaan ini terus terjalin,” ujarnya.

Letjen TNI (Purn) Chandra W. Sukoco juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, peserta, dan para mantan pelatih. Ia menekankan pentingnya momen reuni ini sebagai refleksi perjalanan 40 tahun pengabdian mereka sebagai abdi negara.

Salah satu momen spesial adalah penghormatan kepada Mayjen TNI (Purn) Helly Guntoro yang menjadi tuan rumah pesiar terpimpin di Gunung Telomoyo. “Penerimaan luar biasa dari Mayjen TNI (Purn) Helly Guntoro membuat acara ini begitu istimewa,” tutur Chandra.

Menghidupkan Nostalgia dan Silaturahmi

Di antara peserta, tampak sejumlah tokoh penting, seperti Letjen TNI (Purn) Bambang Ismawan (mantan Kasum TNI), Letjen TNI (Purn) M. Sabrar Fadhilah (mantan Wagub Lemhanas), dan Letjen TNI (Purn) Agus Suhardi (mantan Pangkogabwilhan III). Kehadiran mereka menambah kehangatan reuni ini.

Reuni akbar IKAT ’88 tidak hanya menjadi ajang bernostalgia, tetapi juga meneguhkan nilai kebersamaan. “Satu hati, satu jiwa, satu rasa” bukan sekadar tema, melainkan representasi ikatan yang terus hidup meski jarak dan waktu memisahkan.

Sumber: Humas IKAT ’88/Tim

Example 120x600
HUKUM & KRIMINAL

Setelah HD dan OFO sebelumnya ramai diperbincangkan, kini hadir tiga nama baru: PSG, UFO Mind, dan UFO Bold semuanya ditemukan beredar luas tanpa pita cukai resmi, dan dijual terang-terangan di berbagai wilayah.

Situasi ini menciptakan satu pertanyaan besar yang terus mengendap di benak publik: “Mengapa mafia rokok ilegal tampak lebih terorganisir, lebih berani, dan lebih stabil dibanding negara?”