Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
NASIONAL

Tak Lolos PPDB, Lalu Harus ke Mana? Sekolah Negeri Seakan Jadi Mimpi yang Sulit Dicapai

Avatar photo
93
×

Tak Lolos PPDB, Lalu Harus ke Mana? Sekolah Negeri Seakan Jadi Mimpi yang Sulit Dicapai

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false,"used_sources":{"version":1,"sources":[{"id":"349538621087201","type":"ugc"}]}}
Picsart-24-03-26-04-51-32-353
Ilustrasi Tinta Jurnalis News

TINTAJURNALISNEWS –Tahun ajaran baru 2025/2026 kembali menyisakan kegelisahan. Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang seharusnya menjadi pintu pembuka masa depan, justru menjadi tembok yang menghadang bagi sejumlah calon siswa.

Tak sedikit anak-anak yang sudah mempersiapkan diri dengan semangat dan harapan tinggi, kini harus menerima kenyataan pahit: tidak lolos seleksi. Padahal, dari sisi domisili dan nilai akademik, mereka merasa sudah memenuhi ketentuan.

Ironisnya, pengumuman kelulusan hanya menampilkan nama-nama yang lolos tanpa disertai penjelasan mengapa banyak anak lainnya tersisih. Ketidakjelasan inilah yang memunculkan keresahan baru di kalangan orang tua.

“Kalau tidak lolos negeri, lalu harus ke mana? Swasta mahal, kami tak sanggup. Apa solusinya?” ungkap seorang warga Tanjungpinang-Kepri saat ditemui wartawan Tintajurnalisnews pagi 29/6/25.

Sistem online yang digadang-gadang sebagai bentuk transparansi dan pemerataan justru menciptakan kebingungan. Orang tua mengaku bingung harus melangkah ke mana. Ada yang mencoba mencari sekolah swasta, ada pula yang hanya bisa menunggu informasi lanjutan jika memang ada.

Sayangnya, tak semua keluarga punya akses informasi, pemahaman sistem digital, atau kekuatan ekonomi untuk segera mencari alternatif. Mereka seperti terpinggirkan, padahal pendidikan adalah hak dasar yang dijamin konstitusi.

Lebih memprihatinkan, belum tampak langkah aktif dari instansi terkait untuk mendampingi anak-anak yang tidak lolos. Tidak ada pendampingan psikologis, tidak ada arahan yang menyeluruh, bahkan informasi mengenai gelombang kedua pun masih samar.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah sekolah negeri kini hanya hak bagi segelintir? Di mana kehadiran negara ketika anak-anak mulai putus asa karena tak bisa sekolah?

Pendidikan seharusnya inklusif dan merata. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Jika sistem PPDB online menyisakan korban, maka sistem itu patut dikaji ulang. Bukan untuk menyalahkan, tetapi demi memastikan tak ada anak yang terabaikan.

Pertanyaannya kini bukan hanya siapa yang lolos, tapi: bagaimana nasib mereka yang tidak? Apakah harus diam menerima nasib, atau akankah negara hadir membawa solusi?

Example 120x600
NASIONAL

Ke mana sebenarnya uang Rp500.000 per bulan yang disebut-sebut berasal dari seorang pelaku usaha kasino di Kota Batam? Pertanyaan ini mencuat setelah dana yang selama ini disalurkan melalui perantara berinisial RG di Tanjungpinang tak kunjung diterima oleh pihak penerima berinisial E sejak Januari 2026.

Sebelumnya, pola penyaluran dana tersebut berjalan lancar. Setiap bulan, tepatnya pada tanggal 11–12, E secara rutin menerima uang Rp500.000 melalui RG. Tidak pernah ada keterlambatan, tidak pernah ada persoalan. Namun pola yang telah berlangsung berbulan-bulan itu mendadak terputus.

Lingkungan

Aktivitas pembangunan di kawasan Tanjung Piayu belakangan menjadi sorotan publik, menyusul somasi terbuka terkait dugaan perusakan mangrove. Namun, pemuda setempat meminta isu ini disikapi secara objektif dan proporsional, menekankan bahwa proses pembangunan telah melalui tahapan perizinan sesuai ketentuan hukum dan berada di bawah pengawasan instansi terkait.