TINTAJURNALISNEWS -Ada sesuatu yang sering luput ketika kita menilai seseorang: kita terlalu mudah melihat apa yang dimilikinya, tetapi lupa memperhatikan bagaimana ia menggunakannya.
Pendidikan tinggi, pengetahuan luas, pengalaman panjang, jabatan, maupun kemampuan berbicara memang merupakan sesuatu yang patut dihargai. Namun, semua itu belum cukup untuk menggambarkan kualitas seseorang secara utuh.
Sebab menjadi manusia tidak hanya tentang seberapa banyak yang diketahui, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.
Seseorang bisa sangat pandai menyampaikan pendapat, tetapi kepandaian seharusnya tidak menjadi alasan untuk merendahkan mereka yang berbeda pandangan. Seseorang boleh merasa yakin terhadap apa yang diyakininya benar, tetapi keyakinan tersebut semestinya tidak menghilangkan kemampuan untuk mendengar dan menghargai.
Di tengah kehidupan yang semakin terbuka, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang sulit dihindari. Kritik, pertanyaan, maupun masukan akan selalu hadir. Tidak semuanya menyenangkan untuk didengar, tetapi bukan berarti semuanya harus dianggap sebagai serangan.
Justru dari cara seseorang menghadapi kritik, sering kali terlihat bagaimana ia menghargai orang lain.
Ketegasan tidak harus disertai dengan penghinaan. Mempertahankan prinsip tidak harus membuat seseorang kehilangan kesantunan. Menjawab pertanyaan tidak harus dilakukan dengan meremehkan orang yang bertanya.

Begitu pula dengan jabatan dan kedudukan.
Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga sikap. Kekuasaan seharusnya tidak menciptakan jarak kemanusiaan. Jabatan tidak semestinya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Karena pada akhirnya, setiap manusia tetap memiliki martabat.
Ada kalanya seseorang begitu sibuk membuktikan bahwa dirinya benar hingga lupa bahwa cara menyampaikan kebenaran juga memiliki nilai. Ada pula yang begitu bangga dengan pengetahuan yang dimiliki sampai lupa bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Di situlah kerendahan hati menjadi penting.
Ilmu semestinya membuat manusia semakin sadar bahwa dunia begitu luas dan pengetahuan tidak pernah berhenti berkembang. Semakin banyak yang dipelajari, seharusnya semakin besar pula kesadaran untuk menghargai orang lain.
Bukan berarti orang berilmu harus diam. Bukan pula berarti seseorang tidak boleh tegas atau kritis.
Justru orang yang memiliki pengetahuan semestinya mampu menyampaikan pikirannya dengan lebih bijaksana. Mampu berbeda tanpa bermusuhan. Mampu mengkritik tanpa menghina. Mampu mempertahankan pendapat tanpa menganggap orang lain tidak berharga.
Sebab kepandaian hanya menjelaskan kemampuan seseorang dalam berpikir. Sementara sikap menunjukkan bagaimana kemampuan itu digunakan.

Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang pintar. Masyarakat juga membutuhkan orang-orang yang mampu menjaga perkataan, menghormati sesama, menerima perbedaan, dan memahami bahwa tidak ada kedudukan yang membuat seseorang kehilangan kewajiban untuk beradab.
Maka, mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya tentang seberapa tinggi pendidikan seseorang, seberapa luas pengetahuannya, atau seberapa besar jabatan yang dimilikinya.
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Setelah memiliki semua itu, apakah ia menjadi manusia yang lebih baik dalam memperlakukan sesamanya?
Sebab ilmu yang tinggi akan jauh lebih bermakna ketika berjalan bersama adab.
Pintar itu penting. Berilmu itu mulia. Tetapi tetap menjadi manusia yang beradab adalah pilihan.
















