Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Hubungi Kami via WhatsApp
NASIONAL

Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh dari Sosok Prof. Dr. Sri Edi Swasono MPIA

Avatar photo
173
×

Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh dari Sosok Prof. Dr. Sri Edi Swasono MPIA

Sebarkan artikel ini
Prof. Sri Edi Swasono saat menghadiri forum diskusi kebangsaan dan ekonomi kerakyatan [Dok. Jacob Ereste]

TINTAJURNALISNEWS —Sosok Sri Edi Swasono kembali menjadi perhatian publik melalui pandangan dan keteladanannya dalam memperjuangkan ekonomi kerakyatan yang berlandaskan Pasal 33 UUD 1945. Pemikiran tersebut dinilai relevan di tengah tantangan ekonomi nasional dan global yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

Menurut Sofian Effendi, Prof. Sri Edi Swasono dikenal sebagai guru besar yang konsisten memperjuangkan sistem ekonomi Indonesia yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat, bukan ekonomi pasar liberal. Gagasan itu kembali mengemuka setelah Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Paripurna DPR RI menegaskan komitmennya untuk menjalankan amanah Pasal 33 UUD 1945 di tengah tekanan ekonomi dan penguatan nilai dolar terhadap rupiah.

Pandangan serupa juga disampaikan Dahlan Iskan yang menilai arah kebijakan ekonomi nasional 2027 yang dipaparkan Presiden Prabowo menjadi momentum penting dalam penguatan ekonomi berbasis konstitusi dan kepentingan rakyat.

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

👉 Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

Sebagai pegiat koperasi nasional dan menantu Proklamator Mohammad Hatta, Prof. Sri Edi Swasono sejak lama menekankan pentingnya koperasi sebagai soko guru ekonomi nasional. Menurutnya, pembangunan bangsa yang cerdas dan sejahtera harus ditopang pendidikan yang kuat serta sistem ekonomi berbasis koperasi yang berpihak kepada rakyat.

Dalam berbagai kesempatan, Prof. Sri Edi Swasono juga menyoroti persoalan ketimpangan ekonomi yang dinilai semakin tajam sejak era reformasi 1998. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan langkah serius agar penguasaan sumber daya alam dan ekonomi nasional tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu.

Pernyataan Menteri Pertahanan Syafrie Syamsuddin terkait perlunya penertiban penguasaan kawasan hutan dan sumber daya strategis dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga kedaulatan ekonomi nasional.

Selain dikenal sebagai ekonom dan intelektual, Prof. Sri Edi Swasono juga dipandang sebagai sosok sederhana dan rendah hati. Berasal dari trah Keraton Solo, beliau dikenal tidak menonjolkan gelar kebangsawanan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap itu dinilai mencerminkan nilai “silih asah, silih asih, dan silih asuh” yang menjadi teladan dalam dunia pendidikan maupun pergerakan sosial.

Dalam sejumlah forum kebangsaan dan diskusi publik, Prof. Sri Edi Swasono aktif memberikan pandangan terkait pendidikan, ekonomi kerakyatan, serta solusi menghadapi tantangan bangsa. Sosoknya dinilai layak menjadi rujukan intelektual nasional yang konsisten memperjuangkan kepentingan rakyat dan kedaulatan ekonomi Indonesia.