Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
NASIONAL

Menteri PKP Dorong Pemanfaatan Lahan PT KAI untuk Program 3 Juta Rumah

Avatar photo
29
×

Menteri PKP Dorong Pemanfaatan Lahan PT KAI untuk Program 3 Juta Rumah

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false}
Picsart-24-03-26-04-51-32-353

Menteri PKP Maruarar Sirait. (Ilustrasi Tinta Jurnalis News)

TintaJurnalisNews –Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mengarahkan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, sebagai calon lokasi pembangunan Program 3 Juta Rumah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Menteri PKP Maruarar Sirait menyampaikan hal ini dalam kunjungan kerjanya ke Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (28/11/2024). Dalam pernyataannya, Menteri Ara, sapaan akrabnya, menegaskan pentingnya survei dan pendataan hunian di lahan negara sekitar kawasan stasiun tersebut. “Kami berharap PT KAI terlebih dahulu dapat melakukan survei dan pendataan hunian yang ada di lahan negara di sekitar Stasiun Manggarai,” ujar Maruarar.

Pemanfaatan Lahan Strategis untuk Hunian Rakyat

Menteri Ara menjelaskan bahwa lahan negara yang menjadi aset PT KAI memiliki potensi besar untuk dijadikan lokasi pembangunan rumah rakyat. Lokasinya yang strategis di kawasan perkotaan dinilai ideal sebagai hunian layak bagi masyarakat. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan negara di wilayah perkotaan.

“Kami berencana berkoordinasi dengan PT KAI untuk menyusun program penataan kawasan permukiman di sekitar Stasiun Manggarai. Tujuannya adalah memaksimalkan penggunaan lahan negara untuk mendukung Program 3 Juta Rumah,” kata Maruarar.

Kerja Sama dengan Perumnas

Saat ini, PT KAI telah bekerja sama dengan Perum Perumnas dalam membangun hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD) di sejumlah stasiun. Beberapa proyek TOD yang telah berjalan antara lain Semesta Mahata Serpong, Semesta Mahata Margonda, Semesta Mahata Tanjung Barat, dan Semesta Parayasa. Konsep TOD ini memungkinkan pembangunan hunian vertikal yang terintegrasi dengan moda transportasi, sehingga mempermudah mobilisasi masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Maruarar didampingi oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Keduanya menaiki kereta rel listrik (KRL) untuk meninjau kawasan hunian di sekitar Stasiun Manggarai. Menteri Erick menambahkan, koordinasi antara Kementerian PKP dan Kementerian BUMN akan difokuskan pada pemetaan lahan dan potensi pemanfaatannya untuk perumahan.

“Untuk pembangunan rumah di sekitar stasiun milik PT KAI, konsep TOD menjadi pilihan yang tepat. Hunian vertikal dekat dengan moda transportasi seperti kereta api akan mempermudah mobilisasi masyarakat yang bekerja,” kata Erick Thohir.

Upaya Mendukung Kesejahteraan Masyarakat

Melalui sinergi lintas kementerian dan perusahaan negara, pemerintah optimistis dapat merealisasikan Program 3 Juta Rumah sekaligus menyediakan hunian layak bagi masyarakat di kawasan perkotaan. Dengan memanfaatkan lahan strategis seperti di Stasiun Manggarai, program ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan hunian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sumber: Liputan6.com

Example 120x600
NASIONAL

Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) menegaskan pentingnya keseragaman informasi publik di tengah penanganan bencana di wilayah Sumatera. Hal ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan Media, Komunikasi, dan Informasi Publik yang digelar melalui skema hybrid.

HUKUM & KRIMINAL

Setelah HD dan OFO sebelumnya ramai diperbincangkan, kini hadir tiga nama baru: PSG, UFO Mind, dan UFO Bold semuanya ditemukan beredar luas tanpa pita cukai resmi, dan dijual terang-terangan di berbagai wilayah.

Situasi ini menciptakan satu pertanyaan besar yang terus mengendap di benak publik: “Mengapa mafia rokok ilegal tampak lebih terorganisir, lebih berani, dan lebih stabil dibanding negara?”