Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
Jakarta

Menkeu Tegaskan SSK Indonesia Triwulan II-2025 Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

Avatar photo
102
×

Menkeu Tegaskan SSK Indonesia Triwulan II-2025 Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false,"used_sources":{"version":1,"sources":[{"id":"349538621087201","type":"ugc"}]}}
Picsart-24-03-26-04-51-32-353
Kementerian Keuangan

TINTAJURNALISNEWS – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia pada Triwulan II tahun 2025 tetap terjaga, meskipun ketidakpastian global tengah melanda. Hal ini disampaikannya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang digelar di Jakarta, Senin (28/07).

Dalam paparannya, Menkeu menjelaskan bahwa ketidakpastian global saat ini dipicu oleh dinamika negosiasi tarif resiprokal antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta meningkatnya ketegangan geopolitik dan militer di berbagai kawasan. Menyikapi hal tersebut, KSSK terus memperkuat sinergi dan koordinasi lintas lembaga untuk menjaga ketahanan sistem keuangan nasional.

“Kami dari KSSK terus memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan antar-lembaga, yakni kebijakan fiskal oleh Kementerian Keuangan, kebijakan moneter dan makroprudensial oleh Bank Indonesia, pengawasan serta regulasi sektor keuangan oleh OJK, dan LPS yang berperan dalam penjaminan simpanan. Semua ini dilakukan untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Sri Mulyani.

Ia menambahkan bahwa pada April 2025, AS mulai memberlakukan tarif resiprokal yang langsung direspons dengan kebijakan retaliasi oleh Tiongkok. Situasi tersebut meningkatkan ketidakpastian global. Di bulan Juni, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah turut memperlambat pertumbuhan ekonomi global, termasuk di kawasan Amerika, Eropa, dan Jepang.

Ekonomi Tiongkok tercatat tumbuh 5,2 persen pada Triwulan II-2025, lebih rendah dari Triwulan I yang mencapai 5,4 persen (yoy), utamanya karena turunnya ekspor ke AS. Sementara India menunjukkan pertumbuhan yang kuat berkat investasi yang stabil. Negara berkembang lainnya justru mengalami perlambatan akibat penurunan ekspor dan perdagangan global yang lesu.

Sri Mulyani juga mengungkapkan adanya pergeseran arus modal global. Investor mengalihkan aset dari AS ke instrumen yang dianggap lebih aman seperti keuangan Eropa, Jepang, dan emas. Namun, sebagian aliran modal juga bergerak ke pasar negara berkembang, menyebabkan pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang global.

Mengacu pada laporan Bank Dunia pada Juni 2025, proyeksi pertumbuhan ekonomi global direvisi turun dari 3,2 persen menjadi 2,9 persen (PPP weights). Hal senada juga disampaikan oleh OECD yang menurunkan prediksinya dari 3,1 persen menjadi 2,9 persen.

“Ini adalah lingkungan global yang terus kami amati dan waspadai. Namun, KSSK optimis bahwa ekonomi Indonesia di Triwulan II tetap terjaga. Konsumsi dan daya beli masyarakat masih positif, dunia usaha menunjukkan ketahanan, dan APBN terus menjalankan fungsi countercyclical serta memperbaiki distribusi dan efektivitas pasar,” tutup Menkeu.

Sumber: Kemkeu RI

Example 120x600