Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
HUKUM & KRIMINAL

KUHP Baru Tidak Larang Nikah Siri dan Poligami

Avatar photo
122
×

KUHP Baru Tidak Larang Nikah Siri dan Poligami

Sebarkan artikel ini
Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman
Picsart-24-03-26-04-51-32-353

TINTAJURNALISNEWS –Anggota DPR RI sekaligus Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menegaskan bahwa Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru tidak melarang praktik nikah siri maupun poligami. Anggapan yang berkembang di masyarakat tersebut dinilainya sebagai penafsiran keliru terhadap substansi aturan dalam KUHP nasional.

Habiburokhman menjelaskan, KUHP baru hanya mengatur larangan perkawinan apabila terdapat halangan yang sah menurut hukum, seperti melakukan perkawinan dengan seseorang yang masih terikat dalam perkawinan lain. Ketentuan ini bukanlah aturan baru, melainkan telah dikenal dalam KUHP lama.

“KUHP tidak masuk ke ranah privat masyarakat. Yang diatur adalah menjaga ketertiban sosial dan melindungi hak pihak yang sah,” tegas Habiburokhman.

Ia menambahkan, ketentuan tersebut bertujuan mencegah praktik perkawinan yang melanggar hukum, termasuk penyembunyian status perkawinan yang dapat merugikan pihak lain. Oleh karena itu, narasi yang menyebut KUHP baru melarang nikah siri dan poligami secara mutlak dinilai tidak berdasar.

Menurutnya, pemerintah dan DPR telah merumuskan KUHP baru dengan prinsip menghormati nilai sosial, agama, dan budaya masyarakat, sekaligus memastikan adanya kepastian hukum dan perlindungan hak.

Habiburokhman mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan, serta memahami isi KUHP baru secara utuh dan proporsional.

Example 120x600
HUKUM & KRIMINAL

Menindaklanjuti pemberitaan serta pernyataan publik terkait dugaan pelanggaran izin pertambangan pasir laut di wilayah Kepulauan Riau yang mengaitkan nama Izin Pertambangan Rakyat (IPR) atas nama Edy Anwar, pihak pemegang izin melalui kuasa hukumnya menyampaikan klarifikasi sekaligus hak jawab resmi kepada redaksi.

Hak jawab tersebut diterima Redaksi Tinta Jurnalis News pada Rabu pagi, 14 Januari 2026, sebagai bentuk penegasan atas legalitas kegiatan pertambangan yang dijalankan serta untuk meluruskan informasi yang dinilai tidak sesuai dengan fakta hukum.