Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Hubungi Kami via WhatsApp
NASIONAL

Bukan Pengelola, Tapi Kok Seolah Tahu Semua? Komentar Oknum W Soal Pelabuhan Rakyat di Km 16 Timbulkan Tanda Tanya Baru; “Kita Kerja Cari Uang, yang Dibawa Bukan Sabu-Sabu”

Avatar photo
149
×

Bukan Pengelola, Tapi Kok Seolah Tahu Semua? Komentar Oknum W Soal Pelabuhan Rakyat di Km 16 Timbulkan Tanda Tanya Baru; “Kita Kerja Cari Uang, yang Dibawa Bukan Sabu-Sabu”

Sebarkan artikel ini
,"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false,"used_sources":{"version":1,"sources":[{"id":"349538621087201","type":"ugc"},{"id":"362845593032900","type":"premium"}]}}
Chat Whatsapp Oknum W kepada Tinta Jurnalis News

TINTAJURNALISNEWS —Isu mengenai dugaan adanya bagi-bagi jatah di pelabuhan rakyat kawasan Toapaya, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, kini berbuntut panjang.

Setelah berita sebelumnya mencuat ke publik, muncul tanggapan mengejutkan dari seorang oknum berinisial W, yang justru membuat persoalan ini semakin menarik untuk dikupas.

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

👉 Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

Dalam komentarnya kepada Tinta Jurnalis News, W menulis: “Ya… dicari sumbernya masbro. Kita kerja kan cari uang. Kalau sudah dapat uang, kita jaga dan kita bina. Karena yang dibawa bukan sabu-sabu, mas bro.”

Sekilas terdengar sederhana, namun isi komentar tersebut menimbulkan sejumlah kejanggalan. Pasalnya, W diketahui bukan pengelola, pemilik, ataupun pejabat resmi di pelabuhan rakyat itu.

BACA JUGA:  Mengapa Penjualan Barang Bekas Asal Singapura di Jl Arah Uban Tanjungpinang Timur Dibiarkan Bebas? Pihak Berwenang Diam, Ada Apa?

Namun dari cara ia berbicara, terkesan seolah memahami betul aktivitas dan pola kerja di kawasan pelabuhan tersebut.

Kalimat “kita jaga dan kita bina” memunculkan pertanyaan besar, siapa “kita” yang dimaksud? Apakah ia bagian dari kelompok tertentu yang memiliki peran informal di pelabuhan itu?

Dan mengapa perlu menegaskan bahwa “yang dibawa bukan sabu-sabu”? Tidak ada yang menyinggung soal barang ilegal, tapi pernyataan itu justru mengalihkan perhatian publik pada hal-hal yang sebelumnya tidak disorot.

Berbagai pihak menilai, pernyataan seperti itu biasanya keluar dari seseorang yang merasa tersentil atau terlibat secara tidak langsung.

Nada defensif dan pemilihan kata yang berlebihan memperkuat dugaan bahwa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya terbuka di balik aktivitas pelabuhan rakyat tersebut.

BACA JUGA:  Beda Pilihan, Satu Tujuan untuk Daerah yang Lebih Bersatu dan Maju

Kini, masyarakat mulai bertanya-tanya:

Jika seorang yang bukan pemilik atau pejabat resmi bisa berbicara seolah tahu banyak hal di balik pelabuhan itu, ada apa sebenarnya yang terjadi di sana? Apakah benar ada pihak-pihak yang memiliki peran di luar struktur resmi?

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelabuhan maupun instansi pemerintah terkait.

Publik berharap ada penjelasan terbuka agar isu “jatah” dan berbagai kejanggalan yang muncul tidak menimbulkan spekulasi lebih jauh.

Karena di balik pelabuhan rakyat yang kini berstatus resmi, masih tersimpan banyak tanda tanya, siapa sebenarnya yang bermain di balik layar?