Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Hubungi Kami via WhatsApp
OPINI PUBLIK

Diam Bukan Lemah: Ketika Ketenangan Jadi Bentuk Perlawanan Terhormat

Avatar photo
330
×

Diam Bukan Lemah: Ketika Ketenangan Jadi Bentuk Perlawanan Terhormat

Sebarkan artikel ini
Opini Tinta Jurnalis News

TINTAJURNALISNEWS —Di tengah derasnya arus opini dan maraknya pembunuhan karakter di ruang publik, muncul sebuah narasi reflektif yang menyentuh banyak hati. Kalimat sederhana namun sarat makna ini kini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial:

“Ceritakan saya seburuk-buruknya, sampai amalmu habis. Membunuh karakterku tidak akan menaikkan derajat. Mungkin kamu sedang menanam bibit petaka ke dirimu sendiri.”

Ungkapan tersebut menggambarkan suara hati seseorang yang memilih diam dan tenang di tengah gelombang fitnah. Dalam dunia yang sering menilai tanpa memahami, ketenangan justru menjadi bentuk perlawanan paling elegan dan bermartabat.

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

👉 Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

Lebih lanjut, narasi itu juga menegaskan sikap untuk tetap menjadi diri sendiri tanpa harus berpura-pura, mencari pembenaran, atau mengemis pengakuan dari orang lain.

BACA JUGA:  Di Atas Langit Masih Ada Langit': Peringatan untuk Tetap Rendah Hati di Tengah Persaingan

“Saya belajar lebih tenang, dan menikmati hidup dengan proses tanpa harus proses. Saya tidak takut untuk dibenci, dan tidak pernah mengeluh seperti sukai. Saya hanya perlu jadi diri sendiri, tanpa harus bersabar.”

Pesan sederhana ini kini menjadi bahan refleksi banyak orang. Di tengah masyarakat yang mudah tersulut oleh komentar negatif dan perdebatan di dunia maya, kalimat ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada seberapa keras seseorang membalas, melainkan seberapa dalam ia mampu menahan diri dengan tenang.

Dalam konteks sosial hari ini, narasi tersebut menjadi pengingat bahwa membalas fitnah dengan ketenangan bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan. Sebab sejatinya, kebaikan tidak perlu berteriak, dan keburukan akan tenggelam oleh waktu.

BACA JUGA:  Kue Tak Dibagi Rata, Bisik-Bisik pun Meledak Jadi Sorotan

 

 

 

OPINI PUBLIK

Hujan deras turun di penghujung tahun. Air jatuh tanpa ragu, membasahi atap, jalan, dan pepohonan. Suasana ini menghadirkan jeda alami, saat aktivitas melambat dan pikiran diajak untuk menengok kembali perjalanan yang telah dilalui.