Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Hubungi Kami via WhatsApp
OPINI PUBLIK

Keangkuhan Tak Membuat Tinggi, Hanya Menunjukkan Betapa Rendahnya Jiwa

Avatar photo
250
×

Keangkuhan Tak Membuat Tinggi, Hanya Menunjukkan Betapa Rendahnya Jiwa

Sebarkan artikel ini
Tinta Jurnalis News

TINTAJURNALISNEWS –Ada pepatah tua yang tak lekang dimakan waktu: “di atas langit masih ada langit.” Sebuah kalimat sederhana, tapi menjadi tamparan bagi mereka yang lupa bahwa setiap ketinggian memiliki batas, dan setiap keangkuhan pasti menemukan lawannya.

Sering kali, ketika seseorang mulai merasakan manisnya kekuasaan, kehormatan, atau pengakuan, ia lupa bahwa tanah tempatnya berpijak tetap sama. Langkahnya melayang, pandangannya meninggi, dan ucapannya mulai merendahkan. Padahal sejatinya, tak ada yang berubah hanya kesadarannya yang memudar, tertutup kabut kesombongan.

Hidup selalu punya cara untuk menegur. Semakin tinggi seseorang melambung, semakin kuat pula angin yang berusaha menjatuhkannya. Kesombongan memang tampak megah dari kejauhan, seperti awan putih yang berarak di langit. Namun begitu tersentuh cahaya kebenaran, ia menguap perlahan dan hilang tanpa bekas.

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

👉 Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

Banyak yang terperangkap dalam bayangan kehebatan dirinya sendiri. Mereka lupa bahwa di atas segala pencapaian manusia, masih ada kuasa yang lebih tinggi yang bisa membalikkan segalanya dalam sekejap. Dan ketika roda kehidupan berputar, yang dulu berteriak paling keras sering kali yang pertama kali terdiam.

Ketinggian sejati tidak pernah diukur dari pangkat, jabatan, atau banyaknya penghormatan. Nilai seseorang justru terlihat dari kemampuannya untuk tetap membumi ketika berada di puncak. Sebab, kerendahan hati bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tertinggi dari kebijaksanaan.

Keangkuhan hanya memperlihatkan seberapa kecil jiwa seseorang yang haus pengakuan. Mereka yang benar-benar besar tidak perlu membuktikan apa pun karena keagungan sejati berbicara lewat tindakan, bukan kesombongan.

Pepatah itu lahir bukan tanpa alasan. Ia hadir sebagai pengingat bahwa di atas langit masih ada langit, dan di atas segalanya, ada Tuhan yang tak pernah tidur. Maka berhentilah meninggikan diri, sebelum hidup sendiri yang merendahkan.

 

OPINI PUBLIK

Tepat hari ini, 4 Juli 2026, genap satu minggu sejak kecelakaan yang saya alami pada 27 Juni 2026. Waktu memang mampu mengeringkan luka di tubuh. Atas izin Allah SWT, kondisi kesehatan saya kini telah berangsur membaik dan mencapai sekitar 70 persen. Namun, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, yaitu luka karena kenyataan yang saya temukan di balik musibah ini.