TINTAJURNALISNEWS —Jacob Ereste menegaskan bahwa konsistensi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam menjaga karakter, kejujuran, dan ketulusan hati di tengah berbagai godaan hidup yang bersifat duniawi.
Dalam narasinya yang ditulis di Banten, 13 Mei 2026, Jacob Ereste menyebut bahwa konsistensi harus dibangun melalui disiplin diri yang kuat. Menurutnya, disiplin menjadi benteng utama untuk menjaga sikap dan karakter agar tetap kukuh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu cara terbaik menjaga disiplin diri adalah melalui laku spiritual yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan. Bukan semata mengejar hasil, tetapi menikmati proses mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Yang terpenting dari laku spiritual adalah kemampuan menikmati dan menghayati laku yang dijalani sebagai nikmat penghantar menuju kedekatan diri pada Tuhan,” tulisnya.

Jacob Ereste menilai bahwa peran hati dan rasa menjadi unsur utama dalam perjalanan spiritual manusia. Sikap tafakur, konsentrasi, serta perenungan diri secara rutin disebutnya sebagai bagian penting untuk mengenali karakter, ego, ambisi, hingga sifat egoistis yang harus dikendalikan sebelum seseorang ingin mengendalikan orang lain.
Ia juga menyinggung pelaksanaan ibadah sholat yang dilakukan secara rutin dan tepat waktu sebagai bentuk tuntunan Tuhan untuk membangun disiplin manusia. Menurutnya, sholat tidak hanya melatih kekhusyukan beribadah, tetapi juga membentuk ketepatan waktu, daya ingat, serta ketekunan dalam menjalankan kewajiban spiritual.
Dalam pandangannya, konsistensi yang terjaga dengan baik akan melahirkan karakter yang tangguh dan setia, bukan pribadi yang mudah berubah sikap demi kepentingan tertentu.
Jacob Ereste menilai kesetiaan sejati lahir tanpa pamrih. Karena itu, sikap tulus dan jujur harus dijaga serta dipelihara sebagai nilai luhur yang semakin langka ditemukan dalam kehidupan modern, terutama dalam dunia politik.
Ia mengkritik praktik politik yang sering mengedepankan kepentingan dibanding loyalitas dan kejujuran. Menurutnya, istilah “tidak ada kawan dan lawan abadi selain kepentingan” telah menjadi gambaran nyata dalam dunia politik saat ini.

Fenomena “bajing loncat” politik, kata dia, menjadi budaya yang sulit diubah karena banyak pihak lebih memilih mengikuti arah kepentingan dibanding mempertahankan prinsip dan kesetiaan.
Padahal, lanjutnya, konsistensi hanya dapat tumbuh di atas fondasi kejujuran, keikhlasan, kasih sayang, dan cinta yang tulus tanpa pamrih. Dari nilai-nilai tersebut akan lahir sikap saling melindungi dan menjaga satu sama lain dari berbagai ancaman maupun pengkhianatan.
Jacob Ereste menegaskan bahwa konsistensi sejatinya tidak perlu banyak diucapkan, melainkan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga mengutip pandangan dramawan W. S. Rendra yang menyebut bahwa perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata yang tidak perlu diucapkan.
Di akhir narasinya, Jacob Ereste menilai bahwa kejujuran dan moralitas jauh lebih penting dibanding kecerdasan tanpa etika. Sebab, menurutnya, pilihan terhadap kejujuran mengandung nilai spiritualitas dan religiusitas dalam hubungan manusia dengan Tuhan.









