Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Example floating
Example floating
NASIONAL

Kasus DJPL Bintan Mandek, Tak Ada yang Punya Nyali Ungkap Dugaan Korupsi Rp168 Miliar Pascatambang

Avatar photo
107
×

Kasus DJPL Bintan Mandek, Tak Ada yang Punya Nyali Ungkap Dugaan Korupsi Rp168 Miliar Pascatambang

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false,"used_sources":{"version":1,"sources":[{"id":"349538621087201","type":"ugc"}]}}
Picsart-24-03-26-04-51-32-353
Ilustrasi Tinta Jurnalis News

TINTAJURNALISNEWS –Dugaan korupsi Dana Jaminan Pengelolaan Lingkungan (DJPL) pascatambang di Kabupaten Bintan senilai Rp168 miliar hingga kini seolah terkunci rapat tanpa kejelasan.

Meski audit resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah mengungkap adanya pencairan dana tanpa prosedur dari puluhan perusahaan tambang, penanganan hukum atas kasus ini justru mandek.

Pertanyaan pun mencuat: benarkah tidak ada yang berani mengusut, atau tak ada yang punya nyali membongkar kebenarannya?

Informasi yang dihimpun Tintajurnalisnews menyebutkan, kasus ini mulai terkuak sejak tahun 2016 saat BPK menemukan bahwa dana DJPL dari 44 perusahaan tambang di Bintan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Bahkan, sebagian dana disebut telah dicairkan tanpa berita acara, tanpa dokumen resmi, serta tanpa mengikuti mekanisme hukum yang berlaku. Total dugaan kerugian negara ditaksir mencapai Rp168 miliar.

Ironisnya, hingga pertengahan 2025 ini, belum ada satu pun pihak yang dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Tidak ada tersangka, tidak ada proses pengadilan, dan tidak ada transparansi.

Padahal, sejumlah organisasi masyarakat seperti Lembaga Investigasi BAPAN dan SEMMI Kepri sudah berulang kali melaporkan kasus ini ke Kejati Kepri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bahkan hingga Kejaksaan Agung RI.

Lebih lanjut, mereka mengklaim telah mengantongi dokumen pelimpahan dari Jaksa Agung Muda Intelijen, yang secara eksplisit memerintahkan agar kasus ini ditindaklanjuti. Namun, hingga kini, semua laporan itu seolah hilang ditelan diam. Tidak ada proses hukum yang bergerak.

Kejaksaan Tinggi Kepri bahkan menyatakan bahwa kasus ini telah dihentikan sejak tahun 2022, dengan alasan tidak ditemukan unsur pidana dan tidak ada kerugian negara.

Padahal, dari hasil temuan awal BPK, nilai dana yang dicairkan tanpa prosedur mencapai lebih dari Rp145 miliar jumlah yang sangat layak dikategorikan sebagai tindak pidana korupsi.

Publik pun dibuat bertanya-tanya: apakah ada kekuatan besar yang melindungi kasus ini? Atau adakah nama-nama penting yang sengaja ingin disembunyikan?

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga hari ini, tidak ada kejelasan yang diberikan kepada masyarakat. Dana DJPL yang seharusnya digunakan untuk pemulihan lingkungan hidup justru dicairkan tanpa kejelasan hukum.

Padahal, dana tersebut merupakan jaminan untuk merehabilitasi kawasan bekas tambang yang rusak.

Situasi ini menjadi pukulan bagi kepercayaan publik terhadap institusi hukum. Jika aparat penegak hukum tidak punya nyali membongkar tabir ini, maka integritas hukum di mata rakyat akan terus menurun.

Rakyat menunggu. Siapa yang akhirnya berani berdiri dan menyuarakan keadilan? Siapa yang punya nyali membuka kebenaran di balik kasus DJPL Bintan ini?

Example 120x600
NASIONAL

Ke mana sebenarnya uang Rp500.000 per bulan yang disebut-sebut berasal dari seorang pelaku usaha kasino di Kota Batam? Pertanyaan ini mencuat setelah dana yang selama ini disalurkan melalui perantara berinisial RG di Tanjungpinang tak kunjung diterima oleh pihak penerima berinisial E sejak Januari 2026.

Sebelumnya, pola penyaluran dana tersebut berjalan lancar. Setiap bulan, tepatnya pada tanggal 11–12, E secara rutin menerima uang Rp500.000 melalui RG. Tidak pernah ada keterlambatan, tidak pernah ada persoalan. Namun pola yang telah berlangsung berbulan-bulan itu mendadak terputus.

Lingkungan

Aktivitas pembangunan di kawasan Tanjung Piayu belakangan menjadi sorotan publik, menyusul somasi terbuka terkait dugaan perusakan mangrove. Namun, pemuda setempat meminta isu ini disikapi secara objektif dan proporsional, menekankan bahwa proses pembangunan telah melalui tahapan perizinan sesuai ketentuan hukum dan berada di bawah pengawasan instansi terkait.