TINTAJURNALISNEWS –Gelombang aksi protes besar dipastikan akan mengguncang Jawa Timur dalam waktu dekat. Aliansi Madura Indonesia (AMI) secara resmi menyatakan sikap tegas mengecam pernyataan anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboe Bakar Al-Habsyi, yang dinilai telah menyudutkan ulama dan pesantren di Madura dengan isu narkoba.
Ketua Umum AMI, Baihaki Akbar, menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan sekadar kekeliruan, melainkan bentuk serius dari penghinaan terhadap marwah ulama dan lembaga pesantren.
“Ini bukan sekadar salah ucap, tetapi sudah masuk pada pembunuhan karakter terhadap ulama dan pesantren di Madura,” tegasnya, Minggu (12/4/2026).
Senada dengan itu, Dewan Penasehat Keagamaan AMI, Gus Khoiron, menyatakan bahwa tudingan tersebut telah melukai hati santri dan masyarakat Madura secara luas. Ia menekankan bahwa pesantren selama ini merupakan benteng moral masyarakat yang tidak layak dikaitkan dengan stigma negatif tanpa dasar yang jelas.
“Ulama dan pesantren adalah kompas moral kami. Menuduh mereka terlibat jaringan narkoba adalah fitnah keji yang tidak bisa ditoleransi,” ujarnya.

Gus Khoiron juga memastikan akan memimpin langsung aksi massa sebagai bentuk pembelaan terhadap kehormatan ulama dan pesantren.
“Kami tidak akan diam. Ini adalah panggilan untuk menjaga marwah guru-guru kami,” tegasnya.
Sebagai bentuk respon nyata, AMI menginstruksikan seluruh elemen masyarakat Madura, mulai dari santri, alumni pesantren, tokoh adat, hingga aktivis, untuk turun ke jalan.
Aksi demonstrasi dijadwalkan berlangsung pada 14–15 April 2026, dengan titik aksi di Kantor DPD PKS Jawa Timur dan Kantor DPC PKS Surabaya. Sekitar 2.000 massa ditargetkan akan ikut serta dalam aksi tersebut.
Dalam seruan aksi yang beredar, AMI menyampaikan tiga tuntutan utama:
- Mendesak pemecatan Aboe Bakar Al-Habsyi dari partainya
- Menuntut klarifikasi dan pertanggungjawaban hukum atas tudingan terhadap pesantren
- Meminta aparat penegak hukum memproses dugaan pencemaran nama baik secara transparan
Baihaki Akbar menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk pembelaan harga diri masyarakat Madura.
“Kami siap melawan segala bentuk fitnah terhadap ulama dan pesantren. Ini soal kehormatan yang tidak bisa ditawar,” pungkasnya.
Hingga saat ini, konsolidasi massa terus berlangsung di berbagai wilayah Madura dan Surabaya menjelang aksi yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.









