Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
NASIONAL

Pelabuhan Tikus: Siapa yang Bermain, Siapa yang Kenyang?

Avatar photo
137
×

Pelabuhan Tikus: Siapa yang Bermain, Siapa yang Kenyang?

Sebarkan artikel ini
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["picsart"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false,"used_sources":{"version":1,"sources":[{"id":"349538621087201","type":"ugc"}]}}

Sorotan Khusus (Ilustrasi TJN)

TINTAJURNALISNEWS -Di balik geliat aktivitas harian yang nyaris tanpa gangguan, pelabuhan-pelabuhan tikus di sejumlah titik termasuk di kawasan Gang Salam Km 8 Kota Tanjungpinang terus beroperasi dengan lancar. Tanpa plang izin, tanpa rambu pengawasan, tanpa petugas resmi.

Aktivitas bongkar muat berjalan mulus, seolah semuanya sah dan legal. Padahal publik tahu persis: ini jalur gelap. Ini pelanggaran. Maka pertanyaannya: siapa yang membiarkan, dan siapa yang diuntungkan?

TINTA JURNALIS NEWS

Rill No Hoax | Portal Nasional

šŸ‘‰ Kunjungi & Ikuti Kami untuk update berita terbaru

Beroperasinya pelabuhan ilegal selama bertahun-tahun tanpa hambatan nyata menimbulkan kecurigaan yang sah: mungkinkah ada pihak yang ikut ā€˜bermain’? Di balik satu perahu yang menepi, tersimpan aliran ekonomi bawah tanah yang menggoda banyak pihak dari pekerja kasar hingga pemangku kebijakan.

BACA JUGA:  Diseminasi Hasil Kajian Populasi Penyu: Langkah Awal Menuju Kawasan Konservasi Tambelan

Jawaban dari dinas terkait seringkali terdengar diplomatis: ā€œBelum ada laporanā€, ā€œSedang ditelusuriā€. Namun faktanya, perahu-perahu kecil hilir-mudik bebas seperti jalan tol tanpa portal. Lalu, siapa yang sebenarnya mengawasi? Apakah aparat hanya bertugas saat kamera wartawan menyala?

Setiap aktivitas di pelabuhan tikus tak pernah gratis. Selalu ada ā€˜uang koordinasi’ istilah halus untuk praktik pengkhianatan terhadap negara. Uang ini tak masuk kas negara. Ia justru melumasi sistem diam dan tutup mata, menandai adanya kesepakatan gelap antara oknum-oknum yang seharusnya menjadi penjaga hukum.

Kasus serupa bukan barang baru. Dari penyelundupan rokok, ballpress, BBM hingga perdagangan manusia, semuanya pernah terbongkar. Namun setiap kali terungkap, yang muncul hanya kalimat klasik: ā€œKami akan evaluasiā€. Evaluasi yang seperti ritual: dilakukan, dilupakan, lalu diulang.

BACA JUGA:  Janji Adalah Utang: Pentingnya Menepati Komitmen dalam Kehidupan Sehari-hari

Minimnya penjelasan dari pihak berwenang, nihilnya tindakan konkret, serta sikap abai terhadap jeritan publik semakin memperkuat opini bahwa sistem memang sedang dipermainkan. Ketika pengawasan lumpuh, maka opini rakyat akan hidup dan seringkali lebih jujur dibandingkan laporan resmi.

Siapa yang sebenarnya paling menikmati keuntungan dari pelabuhan tikus? Siapa yang melindungi mereka dari jerat hukum? Dan sampai kapan negara diam saat dirinya dirampok secara sistematis?

Karena satu hal yang pasti: di balik pelabuhan gelap yang terus berdenyut, selalu ada wajah-wajah yang terangmereka yang duduk nyaman di kursi kekuasaan, menonton hukum dilecehkan, sambil tersenyum penuh laba.šŸ‡®šŸ‡©

HUKUM & KRIMINAL

Langkah tegas namun produktif ditunjukkan Kejaksaan Republik Indonesia dalam pemulihan aset negara. Melalui mekanisme resmi, empat kapal hasil tindak pidana yang telah berkekuatan hukum tetap diserahkan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk dimanfaatkan sebagai aset operasional negara.