Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
NASIONALProfil/Figur

Pena Sang Raja di Jantung Perbatasan, Mengapa Amran Tak Lagi Memakai Gelar?

Avatar photo
125
×

Pena Sang Raja di Jantung Perbatasan, Mengapa Amran Tak Lagi Memakai Gelar?

Sebarkan artikel ini
Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran

TINTAJURNALISNEWS –Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran, dikenal sebagai sosok tenang dengan pena tajam di wilayah perbatasan Natuna. Namun di balik kesahajaannya, tersimpan fakta sejarah yang tak banyak diketahui publik. Ia merupakan zuriat lurus Raja Narasinga II dari Indragiri, sosok legendaris yang tercatat dalam sejarah sebagai penentang Portugis dan pembawa kejayaan kerajaan.

Meski darah penguasa mengalir dalam dirinya, Amran memilih tidak menyandang gelar “Raja” di depan namanya. Ia berdiri bukan sebagai bangsawan yang mengandalkan simbol, melainkan sebagai jurnalis yang mengabdikan diri di garda terdepan utara Indonesia.

Di Natuna, wilayah yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna Utara, nama Amran menjadi bagian dari denyut pers perbatasan. Wibawanya bukan dibangun oleh atribut kebangsawanan, melainkan oleh konsistensi dan integritas dalam mengawal informasi publik.

Menelusuri silsilah Amran berarti menapaki jejak sejarah Simandolak. Dari Raja Narasinga II, garis keturunan berlanjut kepada Raja Bagung, kemudian Raja Alamsyah. Namun sejarah mencatat satu titik transisi penting.

Raja Alamsyah memiliki seorang putri bernama Raja Zainah. Dalam adat Melayu Indragiri yang menganut sistem patrilineal, gelar “Raja” diwariskan melalui garis laki-laki. Sebagai putri, Raja Zainah mewarisi darah kebangsawanan secara utuh, tetapi secara adat tidak mewariskan gelar formal kepada keturunannya.

Dari jalur inilah lahir generasi berikutnya:

M. Madon – M. Ali – M. Jusa Ali – Masbah – hingga Amran.

Secara biologis, garis darah tetap tersambung. Namun secara adat, atribut gelar tidak lagi digunakan. Inilah alasan mengapa Amran tumbuh tanpa embel-embel kebangsawanan, meski silsilahnya merujuk pada trah Raja Narasinga II.

Darah tidak pernah berbohong, meski gelar tak lagi tertulis.

Jika dahulu Raja Narasinga II menjaga wilayah dengan strategi dan keberanian di medan kekuasaan, hari ini Amran menjaga perbatasan melalui tinta dan fakta.

Jurnalisme baginya adalah medan perjuangan baru. Pena menjadi senjata modern untuk membela kepentingan rakyat, khususnya masyarakat di wilayah 3T yang kerap luput dari sorotan nasional.

Sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, Amran dikenal konsisten mengangkat isu transparansi anggaran, realisasi APBD, pembangunan desa terpencil, hingga akuntabilitas pejabat publik. Tulisan-tulisannya tegas, analisisnya tajam, dan keberpihakannya jelas pada kepentingan masyarakat luas.

Tak jarang, sikap kritis tersebut menghadirkan dinamika, perbedaan pendapat, bahkan tekanan. Namun dalam dunia pers, ketegasan adalah bagian dari tanggung jawab profesional.

Jika dahulu kerajaan menjaga wilayah dari ancaman fisik, hari ini ia menjaga wilayah dari ketidakadilan informasi.

Dalam sejarah, Narasinga II dikenal sebagai figur konsolidator kekuasaan. Dalam konteks modern, konsolidasi itu berubah menjadi konsolidasi informasi. Di wilayah perbatasan seperti Natuna, berita bukan sekadar tulisan ia adalah bentuk pertahanan sosial dan penguat kesadaran publik.

Melalui media, Amran menjaga kontrol sosial.

Melalui tulisan, ia membangun akuntabilitas.

Melalui investigasi, ia menguatkan transparansi.

Gelar boleh tidak digunakan, tetapi nilai kepemimpinan tetap berjalan.

Di ruang redaksi Koran Perbatasan, jauh dari istana dan singgasana, perjuangan terus berlangsung. Bukan dengan pasukan, melainkan dengan data. Bukan dengan titah, melainkan dengan laporan investigatif.

Nama Amran hari ini lebih dikenal sebagai Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, bukan sebagai “Raja”.

Dan mungkin di situlah letak makna sebenarnya.

Bahwa marwah bukan sekadar panggilan, melainkan pengabdian.

Di jantung perbatasan Natuna, ia memilih berdiri sebagai wartawan. Sebagai penjaga informasi. Sebagai bagian dari kontrol sosial bangsa.

Darah raja tetap mengalir.

Namun pena adalah mahkotanya hari ini.

Sumber: Amran – Editor TJN