TINTAJURNALISNEWS —Pengamat sosial dan budaya, Jacob Ereste, menyoroti pentingnya etika, moral, dan akhlak mulia dalam membangun tata kelola pemerintahan yang jujur, bersih, dan berkeadilan. Menurutnya, pendidikan sejatinya tidak hanya diperuntukkan bagi rakyat semata, tetapi juga bagi para pemimpin dan elit politik yang berada di garis depan pengambilan kebijakan.
Dalam pandangannya, kultur politik yang santun dan berintegritas harus dijaga agar tidak terjebak pada kepentingan pribadi, kelompok, maupun praktik nepotisme. Ia menilai, orientasi utama penyelenggara negara seharusnya tetap berpihak kepada kepentingan rakyat banyak.
Jacob Ereste juga menyoroti fenomena rangkap jabatan yang dinilai semakin membudaya, baik di lingkungan pemerintahan maupun partai politik. Kondisi tersebut dianggap dapat memunculkan benturan kepentingan antara tugas sebagai pejabat negara dan kepentingan politik praktis.
Menurutnya, tata kelola pemerintahan yang ideal akan sulit terwujud apabila kepentingan politik lebih dominan dibanding pengabdian kepada bangsa dan negara. Ia mengingatkan kembali semangat reformasi tahun 1998 yang kala itu menekankan pentingnya pemisahan jabatan pemerintahan dan kepentingan partai politik.
Dalam tulisannya, Jacob Ereste juga menilai keberadaan partai politik saat ini cenderung lebih berorientasi pada perebutan kekuasaan dibanding menjalankan fungsi pendidikan politik bagi masyarakat. Akibatnya, budaya politik uang dinilai semakin menguat dan berdampak pada menurunnya kualitas etika serta moral politik di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa perbaikan kondisi politik dan tata pemerintahan membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki keteladanan moral, dedikasi, serta semangat pengabdian kepada rakyat. Nilai-nilai pendidikan yang diwariskan oleh tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara disebut masih relevan untuk dijadikan pedoman dalam membangun karakter kepemimpinan bangsa.
Jacob Ereste menekankan, konsep pendidikan nasional tidak boleh hanya dipahami sebagai kebutuhan rakyat semata. Menurutnya, pendidikan moral, etika, dan kepemimpinan justru harus lebih dahulu melekat pada mereka yang berada di posisi pemimpin agar mampu menjadi teladan bagi masyarakat.









