Scroll untuk baca artikel
FB-IMG-1763612837739
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
Iklan Resmi Tinta Jurnalis News
OPINI PUBLIK

Lebaran Hari Kelima: Ramai Sudah Lewat, Saatnya Jujur Pada Diri Sendiri

Avatar photo
116
×

Lebaran Hari Kelima: Ramai Sudah Lewat, Saatnya Jujur Pada Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi suasana Lebaran hari kelima yang mulai sepi, menjadi momen refleksi diri tentang makna silaturahmi dan keikhlasan setelah perayaan.

TINTAJURNALISNEWS –Memasuki hari kelima Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana mulai kembali normal. Kunjungan tidak lagi seramai hari pertama, jalanan mulai lengang, dan aktivitas perlahan berjalan seperti biasa.

Di awal Lebaran, semua terasa hangat. Saling berkunjung, berjabat tangan, dan mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”. Momen itu penuh kebersamaan, penuh senyum.

Namun, setelah suasana mulai tenang, muncul ruang untuk merenung. Mungkin kita semua perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kebersamaan itu sudah benar-benar dari hati, atau masih sebatas kebiasaan yang kita jalani setiap tahun?

Tidak semua orang memiliki pengalaman Lebaran yang sama. Ada yang benar-benar memperbaiki hubungan, tapi ada juga yang masih menyimpan rasa yang belum selesai. Itu hal yang manusiawi.

Karena pada dasarnya, memaafkan bukan perkara mudah. Butuh waktu, butuh keikhlasan, dan butuh keberanian untuk benar-benar membuka hati.

Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk itu. Bukan hanya soal datang dan berkumpul, tapi juga tentang memperbaiki hubungan yang mungkin sempat renggang.

Di sisi lain, setelah Lebaran, masyarakat juga kembali dihadapkan pada realita. Pengeluaran selama Ramadhan dan hari raya cukup besar, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Aktivitas kerja kembali menanti, dan ritme kehidupan kembali seperti semula.

Di titik ini, makna Lebaran mulai terlihat lebih jelas. Apakah nilai kesabaran masih kita jaga? Apakah kepedulian terhadap sesama masih kita rasakan? Dan yang terpenting, apakah hati kita sudah lebih lapang dari sebelumnya?

Lebaran hari kelima menjadi pengingat sederhana. Bahwa yang terpenting bukan seberapa meriah perayaan, tetapi seberapa jauh perubahan itu benar-benar terasa dalam diri.

Banyak harapan dari masyarakat, agar nilai-nilai baik yang dibangun selama Ramadhan tidak berhenti di hari raya saja. Silaturahmi tidak hanya terjadi setahun sekali, tetapi terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang perayaan sesaat. Tetapi tentang bagaimana kita menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya. Mungkin tidak perlu sempurna, tapi setidaknya ada langkah untuk berubah.

OPINI PUBLIK

Hujan deras turun di penghujung tahun. Air jatuh tanpa ragu, membasahi atap, jalan, dan pepohonan. Suasana ini menghadirkan jeda alami, saat aktivitas melambat dan pikiran diajak untuk menengok kembali perjalanan yang telah dilalui.

OPINI PUBLIK

Tidak semua rindu memiliki tiket pulang. Tidak semua kasih sayang bisa diwujudkan dengan pelukan di hari raya atau kebersamaan di meja makan keluarga. Bagi sebagian orang, terutama para perantau, keputusan untuk tidak pulang bukanlah perkara ringan melainkan pilihan yang lahir dari keadaan, tanggung jawab, dan realitas hidup.

OPINI PUBLIK

Kepercayaan tidak selalu diuji dalam perkara besar, tetapi justru dalam hal-hal mendasar yang menyangkut kejujuran. Ketika seseorang diberi amanah untuk menyampaikan hak pihak lain, maka sejak saat itu pula melekat kewajiban moral untuk menunaikannya secara utuh dan tepat waktu. Namun kenyataannya, amanah bisa saja berhenti di tangan yang salah, tanpa kejelasan dan tanpa tanggung jawab.