TINTAJURNALISNEWS –Tepat hari ini, 4 Juli 2026, genap satu minggu sejak kecelakaan yang saya alami pada 27 Juni 2026. Waktu memang mampu mengeringkan luka di tubuh. Atas izin Allah SWT, kondisi kesehatan saya kini telah berangsur membaik dan mencapai sekitar 70 persen. Namun, ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, yaitu luka karena kenyataan yang saya temukan di balik musibah ini.
Selama ini saya menjalani hidup dengan keyakinan bahwa menolong sesama adalah bagian dari ibadah. Siapa pun yang membutuhkan bantuan, baik keluarga, saudara, sahabat, sesama suku, maupun masyarakat, sebisa mungkin saya berusaha hadir tanpa pernah menghitung untung dan rugi. Saya percaya bahwa setiap kebaikan akan kembali pada waktunya.
Namun, ketika saya terbaring akibat kecelakaan, kenyataan justru berbicara berbeda.
Orang-orang yang selama ini pernah saya bantu, yang sering menyebut diri sebagai saudara, sahabat, bahkan keluarga, sebagian besar memilih diam. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, apalagi datang melihat keadaan saya. Padahal, perhatian sederhana saat seseorang sedang tertimpa musibah sering kali jauh lebih berarti daripada seribu ucapan ketika keadaan sedang baik.
Sebaliknya, Allah SWT memperlihatkan kepada saya siapa yang benar-benar memiliki kepedulian. Sahabat-sahabat seprofesi datang tanpa diminta. Mereka meluangkan waktu, memberikan doa, dukungan, dan semangat hingga saya mampu bangkit menjalani masa pemulihan. Mereka tidak datang karena kepentingan, tetapi karena ketulusan.
Dari musibah ini saya memahami bahwa hubungan darah belum tentu menghadirkan kepedulian, dan kedekatan belum tentu melahirkan ketulusan. Musibah menjadi cermin yang memperlihatkan karakter asli setiap orang. Saat kita berada di atas, banyak yang datang mendekat. Namun ketika kita terjatuh, hanya sedikit yang benar-benar bersedia mengulurkan tangan.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun, apalagi mengharapkan simpati. Ini adalah refleksi bahwa hidup selalu memberi pelajaran dengan cara yang tidak pernah kita duga. Terkadang, Allah SWT sengaja memperlihatkan siapa yang pantas dipertahankan dalam kehidupan dan siapa yang cukup dijadikan pengalaman.
Saya tidak menyesal pernah membantu banyak orang. Sebab, berbuat baik bukanlah kesalahan. Yang keliru adalah berharap semua orang memiliki hati yang sama. Tidak semua orang mampu menghargai kebaikan, dan tidak semua yang mengaku dekat akan hadir ketika kita berada dalam kesulitan.
Hari ini saya memilih untuk tetap bersyukur. Allah SWT masih memberikan kesempatan kepada saya untuk hidup, keluarga tetap mendampingi, dan sahabat-sahabat yang tulus terus memberi semangat hingga saya perlahan bangkit dari keterpurukan.
Ke depan, saya akan tetap menolong siapa pun yang membutuhkan. Namun, saya juga belajar untuk lebih bijak dalam memberikan kepercayaan. Sebab, musibah telah mengajarkan bahwa nilai seseorang bukan diukur dari manisnya ucapan, melainkan dari kepeduliannya ketika kita sedang berjuang melawan cobaan.
Terima kasih kepada semua sahabat seprofesi yang telah hadir, mendoakan, dan memberikan semangat selama masa pemulihan. Kebaikan kalian akan selalu saya ingat. Sedangkan bagi mereka yang memilih diam, saya tidak menyimpan dendam. Saya hanya menjadikan semuanya sebagai pelajaran hidup. Karena pada akhirnya, waktu dan musibah adalah cara terbaik untuk membuka topeng kepedulian manusia.















