TINTAJURNALISNEWS -Kegiatan Charity Night yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Katolik Sumatra Utara (IKKSU) menjadi momentum solidaritas kemanusiaan untuk membantu para korban bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatra. Acara penggalangan dana tersebut berlangsung di Ballroom Pusat Pastoran KAJ Jakarta, Minggu (8/3/2026).
Kegiatan berlangsung hangat dan penuh semangat kebersamaan. Acara dipandu oleh MC Kristian Reynaldlo dan Endang Tinambunan yang membuka malam amal dengan salam khas Sumatra Utara, “Ya’ahowu, Horas, Majuah-juah.”
Sejumlah tokoh gereja, tokoh masyarakat, dan tamu undangan turut hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Mgr Kornelius Sipayung, OFM Cap, Ketua Umum IKKSU Lodewijk Sihite, Ketua Panitia Kasianus Telaumbanua, Romo Rohendi Marpaung, Romo Alboen Simatupang, Romo Ignatius Purwosuranto, OSC (Vikjen Keuskupan Sibolga), serta Romo Yustinus Ardianto, Pr selaku Direktur Puspas Samadi.
Turut hadir pula sejumlah tokoh lainnya seperti Osman Sitorus, Hendrik Sitompul, Ketua Umum Lion Club Jakarta Yahya Yastputera beserta istri, serta Paulus Toto Lusida dari Sekretaris Dewan Pembina Nasional Indonesia DPP Partai Solidaritas Indonesia.

Acara dibuka dengan doa bersama yang dipimpin Romo Rohendi Marpaung, Pr, memohon agar kegiatan berjalan lancar serta membawa berkat bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan.
Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pemutaran video dokumentasi berbagai kegiatan sosial yang dilakukan oleh pengurus IKKSU, termasuk kunjungan Sobat Trio, persiapan Paskah IKKSU, serta koordinasi tim dokumentasi dan humas.
Menjelang akhir pemutaran video, Koordinator Humas Kornelius Wau berjalan menuju panggung dengan langkah perlahan, disusul Ketua Umum IKKSU Lodewijk Sihite dan Ketua Panitia Kasianus Telaumbanua.
Dalam laporannya, Kasianus Telaumbanua memaparkan perjalanan kegiatan sosial yang telah dilakukan sekaligus menyampaikan terima kasih kepada para donatur yang telah mendukung kegiatan penggalangan dana tersebut.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila pelayanan panitia selama kegiatan berlangsung masih terdapat kekurangan.
“Kami panitia hanyalah alat untuk menyalurkan bantuan dari Bapak dan Ibu sekalian kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Kasianus.
Kasianus menjelaskan bahwa sebelum acara Charity Night digelar, panitia telah lebih dahulu melakukan berbagai upaya penggalangan dana kepada para dermawan dan jaringan komunitas. Dari proses tersebut, dana yang berhasil dihimpun telah mencapai sekitar Rp1,8 miliar.
“Saya laporkan saat ini dana yang sudah terkumpul kurang lebih Rp1,8 miliar, tetapi itu belum cukup Bapak dan Ibu semuanya,” ujarnya di hadapan para undangan.

Ia menambahkan, dana tersebut merupakan hasil kerja keras panitia yang secara aktif menghubungi para donatur melalui berbagai cara, mulai dari komunikasi melalui WhatsApp, sambungan telepon, hingga berkunjung langsung ke rumah maupun kantor para dermawan.
Semangat solidaritas para tamu undangan yang hadir pada malam Charity Night tersebut membuat jumlah donasi terus bertambah secara signifikan. Sepanjang acara berlangsung, komitmen bantuan dari para donatur terus mengalir hingga akhirnya total dana yang berhasil dihimpun mencapai lebih dari Rp3 miliar.
Peningkatan jumlah donasi tersebut menjadi bukti kuat tingginya kepedulian masyarakat terhadap para penyintas bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatra, khususnya di kawasan Tapanuli dan sekitarnya.
Panitia berharap dana yang terkumpul melalui kegiatan ini dapat membantu meringankan beban para korban, sekaligus mendukung berbagai program pemulihan yang sedang dijalankan oleh gereja dan lembaga kemanusiaan di daerah terdampak.
Kasianus juga berbagi pengalaman saat menggalang dana dengan mengunjungi berbagai pihak, termasuk rekan-rekannya di lingkungan Mahkamah Agung.
“Saya ini seorang hakim, saya datang meminta bantuan kepada mereka. Pertanyaan mereka, belum selesaikah itu?” ujarnya menirukan pertanyaan rekan-rekannya.

Ia menyampaikan bahwa puncak kegiatan penggalangan dana akan dilaksanakan pada 12 April 2026 sekaligus menjadi penutupan rangkaian kegiatan.
Kasianus juga mengucapkan terima kasih kepada Romo Yustinus Ardianto, Pr selaku Direktur Puspas Samadi KAJ yang telah memberikan izin penggunaan tempat acara.
Untuk mencairkan suasana, acara kemudian diisi dengan penampilan musik dari Trio Pastor Keuskupan Sibolga yang terdiri dari Romo Rohendi Marpaung, Romo Alboen Simatupang, dan Romo Ignatius Purwosuranto. Ketiganya merupakan penyintas langsung dari bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Sumatra.
Dalam kesaksiannya, Romo Ignatius Purwosuranto, OSC menceritakan pengalaman menghadapi bencana yang melanda wilayah Sumatra Utara pada 25 November 2025.
Ia menjelaskan bahwa hujan deras yang turun selama hampir satu minggu memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
“Kalau Bapak Ibu melihat tayangan sebelumnya, lumpur dan kayu gelondongan itu semua makanan kami sehari-hari,” ujarnya.
Romo Purwo juga mengisahkan bagaimana para pastor, suster, dan relawan bekerja tanpa mengenal lelah untuk membantu para korban. Mereka mendistribusikan bantuan makanan, sembako, hingga menjangkau desa-desa terpencil yang terisolasi akibat longsor.
“Setiap hari kalau tidak salah 10 mobil kami gunakan untuk mendistribusikan bantuan itu,” jelasnya.
Ia juga menceritakan bahwa pada 16 Februari 2026 banjir kembali terjadi di wilayah tersebut bahkan sehari sebelum perayaan Imlek. Meski demikian, bantuan tetap disalurkan tanpa membedakan latar belakang agama maupun suku.
“Bencana alam tidak mengenal agama dan suku, maka bantuan kemanusiaan pun tidak mengenal agama,” ujarnya.
Melalui rekaman video, Kardinal Ignatius Suharyo juga menyampaikan pesan solidaritas bagi para korban bencana. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersatu dalam semangat kasih dan kepedulian kepada saudara-saudara yang terdampak bencana di Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat.
Dalam kesempatan yang sama, Mgr Antonius Subianto Bunjamin, OSC selaku Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) juga menyampaikan refleksi setelah mengunjungi langsung lokasi bencana.
“Saya mengatakan tidak seperti apa yang ditampilkan di video atau berita-berita, kenyataannya jauh lebih parah dari video yang kita lihat,” ungkapnya.

Ia menegaskan pentingnya solidaritas kemanusiaan tanpa membedakan latar belakang agama.
Menurut Mgr Antonius, salah satu program yang sedang dijalankan adalah pembangunan rumah bela rasa bagi para korban bencana dengan biaya sekitar Rp60 juta per unit.
Program tersebut menargetkan pembangunan hingga 1.000 rumah permanen bagi para penyintas bencana. Pada malam itu bahkan tercatat komitmen pembangunan sekitar 20 unit rumah dari para donatur.
Selain penggalangan dana, acara juga diisi dengan berbagai penampilan seni dan budaya. Salah satunya penampilan Kornelius Wau yang membawakan lagu Nias berjudul “Tano Niha Niomasio” dengan mengenakan pakaian adat Nias Selatan.
Penampilan tersebut semakin meriah dengan tarian Maena Nias yang dibawakan oleh Caroline Erlinawati Wau, Margaretha Sinulingga, dan Yuliana Diliami Wau.
Kegiatan Charity Night IKKSU ini menjadi simbol solidaritas kemanusiaan lintas suku dan agama untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di wilayah Sumatra.
Sumber: IKKSU









